Ungkapan Mutiara

Kita seperti teko, apa yang dikeluarkan maka seperti itulah di dalamnya. Maka berjanjilah untuk selalu membahagiakan orang lain, karena dengan begitu kita membahagiakan hidup kita sendiri (Rosa Rahmania))

Memberi sebanyak yang kita mampu, lalu kita akan menerima sebanyak yang kita butuhkan! InsyaAllah(Luluk Evi Syukur)

Ide-ide gila, butuh orang gila juga untuk mewujudkan semuanya. Demi bumi dan isinyam, baiklah. (Ana Falasthien Tahta Alfina)

Selagi sabar itu ada dalam diri maka selagi itu juga Allah akan mengujinya dan hanya mereka yang benar-benar sabar dapat dengan mudah mengatasi ujianNya (Luluk Evi Syukur)

Selepas ashar nanti Kutunggu di semenanjung hati, mendawai indahnya pelita, kala pelangi berbagi warna, selepas maghrib nanti, Kutunggu di ujung nadi, lantunkan kalam Illahi, hingga Isya hadir kembali (Khasanah Roudhatul Jannah)

Kawan, ingatlah dengan hidup ini, kadang kesusahan dalam mengarungi takdir membuat hidup kita di akhirat nanti menjadi lebih berkualitas. Dan Jangan lah berlebihan di kehidupan ini, karena takut-takut terasa hambar di akhirat nanti. So, Jadikanlah apapun itu tentang kehidupan, lalu rayakanlah dengan kesyukuran.(Adi Nurseha)

Memoar kehidupan yang tak berujung hingga kematian menjemput. Lantas sudah sampai di mana kisah kehidupan ditorehkan? (Luluk Evi Syukur)

Kau yang masih setia mengulum rindu, Kudendangkan senandung lagu merdu, Sebagai pengobat rindu di dada, Sebagai pelipur segala lara, Tersenyumlah sayang, Rindu ini pun masih terus membayang Untukmu duhai kekasih hati Sambutlah syahdunya nyanyian hati (Khasanah Roudhatul Jannah)

Jaga selalu hatimu (Rosa Rahmania)

Tak semua yang diinginkan dapat terwujud sesuai rencana. Pergi saat indah. Allah pasti punya rencana terindah dibalik semua ini. Hanya itu yang bisa menguatkanku saat ini (Yopi Megasari)
Tampilkan postingan dengan label Karya Khasanah Roudhotul Jannah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Khasanah Roudhotul Jannah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Demi Sebuah Amanah


Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua. Aku sudah mulai gelisah dan bosan dengan suasana bising di sekitarku itu, terbersit dalam anganku untuk menembus keramaian, lalu mencari tempat mangkal bus antar kota seperti Sinar Jaya misalnya. Namun belum sempat aku melangkahkan kaki, saat itulah datang seorang bapak yang nampaknya juga hendak menunggu bus antar kota. Sekilas bapak setengah baya itu ramah menegurku dan bertanya ke mana tujuanku. Percakapanpun mengalir begitu saja, tak pernah terbesit di otakku menaruh curiga kepada beliau. Beberapa saat kemudian Bapak setengah baya itu pun memberikan saran untuk naik minibus dan turun di dekat pangkalan bus Sinar Jaya.

Tanpa rasa curiga aku pun menuruti saran bapak setengah baya itu. Ia sibuk melambai-lambaikan tangan pada beberapa minibus yang lewat. Namun belum jua ada minibus yang berhenti sebagai respon atas lambaian tangannya. Sementara riuh rendah suara bising kendaraan dan teriakan pedagang asongan semakin memekakan gendang telinga. Akhirnya ada juga minibus yang berhenti menghampiri lambaian tangannya. Bapak itu pun mempersilahkan aku untuk melompat ke atas minibus terlebih dahulu. Dengan sigap aku pun segera melompat. Sesaat kemudian aku telah berada di dalam minibus yang di maksud. Tanpa memperhatikan bapak setengah baya itu, aku segera mencari tempat duduk yang berada tepat di dekat jendela kaca, dan ternyata ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah ku. Padahal masih banyak tempat duduk lainnya yang bisa ia tempati. Akhirnya pembicaraanpun kembali berlangsung, saling tanya saling jawab, namun aku hanya menjawab seperlunya saja. Entahlah seperti ada rasa risih yang hinggap, yang membuat perasaanku menjadi was-was. Apalagi melihat caranya duduk dan caranya mengajak bicara, seolah ingin selalu dekat. Untungnya aku membawa barang bawaan yang bisa kujadikan dinding pembatas sehingga beliau tak bisa duduk merapat ke arahku. Mulailah bapak itu mengarang sebuah cerita, cerita yang lumayan menarik namun membosankan bagi diriku.

Beliau mengaku kalau saat ini dirinya sedang menghadapi sebuah masalah menyangkut harta warisan keluarganya, yang hanya akan beliau dapatkan apabila beliau telah jelas mempunyai seorang calon istri. Beliau menerangkan detail permasalahan dengan gaya bahasanya yang mungkin mampu melambungkan hayalan seseorang yang mudah terlena dengan iming-iming jutaan rupiah. Tapi maaf, tidak untukku. Aku seperti telah menebak apa ujung dari akhir ceritanya. Benar juga, akhirnya beliau memintaku untuk pura-pura menjadi calon istrinya dengan imbalan dua juta rupiah.

Dengan sopan aku pun menolak, tapi beliau terus berusaha menerangkan, memohon dan mengiba dengan berbagai kalimat yang intinya memelas, hingga membuatku curiga bahwa cerita itu hanyalah karangannya saja. Namun aku berusaha tuk tetap rileks seolah tidak menaruh rasa curiga terhadapnya. Tak terasa minibus yang kami tumpangi berhenti di sebuah jalan yang sangat besar dan bercabang-cabang, dan bapak setengah baya itu pun segera mengajakku untuk turun sementara dengan sigap tangannya meraih barang titipan temenku yang tadi kujadikan dinding pemisah tempat duduk antara diriku dengan beliau. Kontan saja akupun segera turun mengikutinya, karena beliau telah mengambil barang titipan itu dan membawanya turun. Mau tidak mau, aku pun mengikuti langkah kakinya dengan penuh tanda tanya. Rasanya tidak mungkin aku berteriak dan lari karena aku sendiri tidak tahu di mana aku berada. Jika aku berteriak maka apa yang mesti aku teriakkan, karena sejauh ini bapak setengah baya itu tidak menjahatiku. Akhirnya kuhanya bisa mengikuti beliau sambil mencermati setiap ruas jalan raya di sekitarku.

Diantara riuh rendah kebisingan lalu lintas kota Jakarta saat itu, bapak itu mengatakan bahwa pangkalan bus Sinar Jaya berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Akupun menoleh mengikuti arah telunjuk tangannya yang menunjuk ke arah jalan sepi di ujung jalan. Selanjutnya aku segera mengikuti bapak setengah baya itu menyeberangi kawasan jalan raya yang cukup lebar.

"Maaf Pak, biar saya bawa sendiri, ini punya temen saya." kataku mencoba meminta barang yang dibawanya. Namun beliau tidak memberikan barang titipan temenku itu. Terpaksa aku pun terus mengikutinya. Kini kami telah berada di jalan raya yang sepi, di kanan kiri jalan di penuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Hatiku semakin was-was, mau di bawa kemana aku ini. Semakin berkecamuk perasaan dalam dadaku. Pikiranku mulai dihantui perasaan curiga yang berlebihan. Namun aku masih tetap pura-pura tenang, melangkah mengikuti langkahnya menyusuri sepinya jalan raya.

Dari kejauhan nampak seorang laki-laki mondar-mandir di tepian jalan, hatiku berdebar-debar tak karuan, jangan-jangan itu teman bapak ini. Kecemasan mulai hinggap memenuhi otakku. Tak henti-hentinya aku berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Kalau bukan karena barang titipan temanku dibawa bapak itu, aku tidak akan mengikuti langkah kakinya, pasti aku sudah ambil langkah seribu. Yang aku syukuri saat itu adalah aku tidak memakai rok. Yah... untungnya aku pakai celana jeans dan sepatu sport. Sehingga memudahkan bagiku jika nanti terpaksa harus berkelahi melawannya, lalu lari sejauh-jauhnya. Sampai detik itu aku masih mencoba untuk bersikap tenang. Sambil terus mengikuti bapak itu aku memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar seandainya terjadi hal-hal yang mungkin membahayakan keselamatan diriku.

Setidaknya hatiku cukup tenang karena aku punya sedikit bekal ilmu beladiri yang pernah kupelajari sewaktu sekolah di tingkat SMP. Mau tidak mau mungkin harus kupraktekan. Walau aku tahu aku belum tentu menang jika harus adu otot dengan pria dewasa berbadan kekar itu. Saat itulah tiba-tiba saja aku ingat nasehat dari seorang guru Tatanegara saat kumasih sekolah di SMA Katholik. Bagaimana melumpuhkan lawan yang berbadan kekar sekalipun hanya dengan menggunakan satu ibu jari. Tanpa sadar aku pun tersenyum sendiri, ketenangan batin mulai menyelinap di benakku. Dalam hati aku mulai bicara sendiri "Biarin mati-mati, kalau gak aku yang mati ya lawan yang mati". Serasa menjadi orang terkejam saat itu. Kembali kuatur nafas sekedar tuk menenangkan dan mengontrol diri. Aku mulai menyusun strategi dalam otakku, dan tetap berusaha untuk bersikap tenang.

Jarak semakin dekat, dan akhirnya...

"Alhamdulillah..." pekik jerit hatiku mensyukuri kenyataan detik itu. Ternyata laki-laki yang mondar-mandir itu bukanlah teman bapak setengah baya yang masih setia menenteng barang titipan sahabatku. Bapak setengah baya itu terus berjalan sambil tak henti-hentinya mengarang cerita seputar harta warisannya. Bosan aku mendengarnya, namun aku masih menunjukkan bahwa aku serius mendengarkan kisahnya, sambil manggut-manggut dan sesekali menampakkan wajah seolah aku merespon ceritanya. Akhirnya setelah melewati jalan raya yang sepi dan cukup panjang itu, sampailah kami di sebuah wartel dekat gerbang pangkalan Sinar Jaya. Ada binar indah di mataku begitu mengetahui aku telah berada di tempat yang cukup strategis untuk lepas dari perhatian bapak setengah baya itu. Sesaat kemudian bapak setengah baya itu mengajakku masuk ke wartel tersebut dan memintaku untuk menunggu sebentar karena ia hendak menelepon familinya untuk memberitahukan bahwa ia telah bersama calon istrinya. "Wuih... gila... bergidik hatiku, betapa pede-nya beliau, ngaca deh ngaca..." Gerutuku dalam hati.

Aku pun hanya mengangguk dengan polosnya, dan membiarkan beliau masuk ke ruang kecil untuk menelepon familinya. Tiba-tiba ada angin segar datang menyerang urat syarafku, ternyata bapak itu meninggalkan barang tititpan sahabatku tepat di dekat kakiku. Kesempatan ini pun tidak aku sia-siakan. Begitu kulihat dia sedang sibuk menekan tombol telepon dan mulai menelepon dengan bisik-bisik. Segera kuangkat barang titipan sahabatku dan dengan santai melangkah menuju pintu keluar dari wartel itu. Sesampainya di luar wartel, aku segera ambil langkah seribu. Lari......................

Aku segera berlari menuju kios pedagang asongan dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan tiket bus Sinar Jaya. Pedagang asongan yang kutanya segera menunjukkan loket penjualan tiket bus Sinar Jaya. Setelah itu aku segera berlari menuju loket penjualan tiket tersebut. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, aku segera memesan tiket yang kubutuhkan, lalu merogoh kocekku dengan menyodorkan nominal uang sesuai harga tiket untuk satu kali perjalanan sampai ke terminal tujuanku. Ternyata bus tidak langsung berangkat, dan masih menunggu waktu sekitar 45 menit. Namun aku tidak mau menunggu di ruang tunggu, dengan setengah berlari aku segera mencari bus sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket bus yang ada di tanganku. Tidak terlalu sulit untukku menemukan bus tersebut. Dengan cepat aku melompat ke dalam bus dan duduk di bagian paling belakang. Segera kuatur dudukku menirukan cara duduk seorang anak berandalan, yah... kedua kaki kunaikkan ke atas besi yang tepat berada di depanku, sementara badan dan kepalaku ku sandarkan lebih rendah dari kaca jendela. Sehingga tidak mungkin terlihat dari luar bus.

Kedua penumpang yang berada tak jauh di depanku menoleh ke arahku untuk sesaat. Dan aku tak peduli dengan tatapan keduanya, aku sibuk mengatur nafasku yang masih tersengal-sengal. Aku pun masih terus waspada dan terus berdoa, semoga bapak setengah baya tadi tidak menemukanku. Tak berapa lama kemudian beberapa penumpang sudah mulai memenuhi bus antar kota ini, dan akhirnya bus yang ku tumpangi inipun pelan-pelan melaju meninggalkan pangkalan Sinar Jaya itu.

Alhamdulillah... selamat aku... Segera aku memperbaiki cara dudukku. Kini aku pun bisa duduk dengan tenang. Kembali kuterbayang saat-saat mencemaskan sepanjang perjalanan siang tadi bersama bapak setengah baya itu, yang entah bernama siapa. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu akan kebenaran cerita bapak setengah baya itu. Dan aku juga tidak peduli apa niatan yang sebenarnya ada di kepala bapak setengah baya tadi. Tidak ada maksud untuk su'udzon kepadanya, aku hanya mencoba untuk waspada dan menjaga diri dari berbagai bahaya yang mungkin mengintai diri ini.

Satu hal yang pasti, aku tidak tertarik dengan uang imbalan yang ditawarkannya, aku terus mengikuti bapak tadi karena bapak tadi membawa barang titipan temanku. Apa pun bentuk barang itu, barang itu adalah amanah yang harus kusampaikan pada keluarga sahabatku.

***Ini adalah pengalamanku sewaktu masih di PJTKI Kelapa Gading jakarta, dan hendak cuti ke Jawa ***
Dimanapun kita berada, pastikan agar selalu bersikap tenang agar kita bisa berpikir tuk mencari jalan keluar tanpa kekerasan. ^_^

Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Sabtu, 07 Mei 2011

Ngadem di Plaza


Siang yang panas, udara juga tak bersahabat. Kemana kukan berlindung dari panas ini? Dengan langkah pasti aku menuju Plaza terdekat. Escalator telah siap menjemput tubuh mungilku dan membawaku ke atas, ke tempat yang lumayan dingin karena full AC. Mataku mulai tengok kanan tengok kiri menyapu setiap pemandangan yang kulewati. Akhirnya kumemasuki sebuah toko baju. Gadis-gadis cantik menyambut kehadiranku dengan senyum ramah dan mempersilahkan aku untuk melihat-lihat berbagai model baju yang dipajang memenuhi ruangan toko itu. Dengan PD aku berkeliling hanya untuk melihat-lihat tanpa menyentuh baju-baju cantik yang tergantung di sana. Seorang gadis cantik yang dari tadi senyum-senyum mulai menyapaku.

Gadis Cantik: "Lei hou leng o" (Kamu cantik banget) Sambil memamerkan senyumnya.

Asa: "To ce" (Makasih)

Gadis Cantik: "Lei sam hou leng o,
lei hai mei yan a" (Bajumu bagus banget, kamu orang mana)

Asa: "Ngo hai yan nei yan" (Aku orang indonesia)

Gadis Cantik: "Ghoe te hamei dong lei yat yong a, yan nei yan?"(Apa mereka sama denganmu? orang Indonesia?)"

Sambil menunjuk ke arah beberapa pengunjung yang juga berjilbab. Aku pun menoleh ke arah yang ditunjuk.

Asa: "Ghoe to hai" (Mereka juga)

Gadis Cantik: "Tanhai lei dong ghoi em dong sae wo" (Tapi kamu sama mereka beda banget)

Asa: "Hah? Em dong? (Hah? Gak sama?)

Gadis Cantik: "Lei siu hou dim, bei fu kem hou" (Senyummu sangat manis, kulitmu sangat bagus)

Aku hanya tersenyum mendengar sanjungannya. Dalam hatiku aku jadi berbicara sendiri. "Waduh Neng, walaupun kamu menyanjungku setinggi langit gak bakal deh aku belanjakan uangku tuk membeli baju-baju mahalmu, aku masuk ke tokomu ini kan cuman mau ngadem duank, hehehe" Akhirnya aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri sambil meninggalkan si gadis cantik pelayan toko itu.

Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 01 Mei 2011

Bukan Hantu yang Aku Takutkan, Tapi Harimau


Senja mulai menyapa malam, aku tetap duduk manis pada tempatku sambil menatap aktivitas teman-teman di sekelilingku. Semua tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal pendakian malam itu. Para senior mulai menanyakan persiapan masing-masing pendaki yang tergolong masih pemula. Termasuk diriku.

"Non, jaketmu mana?" tanya seorang senior padaku.

"Ini yang kupakai" Kataku sambil menarik helai kain jaketku. Sementara kakak senior sepertinya tercengang.

"Hah...!!! Lo mau kondangan apa mau naik gunung? yang bener aja, masa naik gunung pakai jaket tipis gini, lo mau mati kedinginan?" Kata si senior sambil menahan tawa disusul lirikan dan senyum hampir semua pendaki yang ada di situ.

Aduh, jadi malu aku. Tapi aku cuma tersenyum saja mendengarnya. Sementara Ibu pembina mendekatiku sambil menyerahkan jaket yang dipakainya.

"Neh, kamu pakai ini, di atas tuh dingin, nanti kamu kedinginan" Katanya sambil menahan senyum.

"Waduh Bu, gimana dengan Ibu? ibu pakai apa?" Tanyaku heran.

"Tenang nanti Ibu cuma di post satu kok, Ibu gak ikut naik kok" Katanya menyakinkanku. Akupun segera menerima jaketnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada beliau.

Sesaat kemudian rombongan pendaki mulai bergerak melangkah menyusuri jalan setapak kaki gunung Slamet. Sesuai dengan anjuran senior, semua pendaki saling bergandengan tangan. Awal pendakian semua masih penuh semangat, masih segar, langkahpun serempak mantap dan kompak. Semakin tinggi mendaki, semakin sulit medan di daki, pertahanan fisik para pendaki pun tak lagi seimbang. Tangan yang semula saling erat bergandengan, kini satu persatu mulai terlepas. Para pendaki yang semula berjalan rapi seperti barisan ular kini telah tercerai-berai membentuk beberapa kelompok. Aku termasuk dalam kelompok yang melangkah paling depan.

Aku mencoba mengatur nafasku yang sudah sejak tadi mulai tersendat-sendat. Aku meminta teman-teman tuk berhenti sejenak. Begitulah, jika ada satu pendaki dalam kelompok itu kehabisan tenaga maka kelompok itupun segera berhenti tuk istirahat sebentar. Ini berlangsung terus-menerus sepanjang pendakian malam itu. Kebersamaan terasa begitu indah. Di sinilah kita bisa tahu karakteristik asli seseorang. Ketika kita hidup di alam bebas, ketika air dan bahan makanan susah didapat, ketika lelah dan haus datang menghampiri, sementara kita harus berbagi. Kebersamaan dan kesetiakawanan sangat dibutuhkan.

Malam terus beranjak, langkah kaki mulai terseok-seok, namun semangat tuk mencapai puncak tak jua surut. Desir angin malam lembut terasa. Dalam iringan gemerisik dedauanan dan derap kaki yang menginjak ranting-ranting kering yang berserakan. Kakak-kakak senior terlihat terus memberi semangat. Tak terasa malam beranjak pergi, langit yang semula gelap perlahan-lahan sedikit terang. Ternyata waktu telah menunjukkan jam tiga lewat waktu setempat. Tiba-tiba kawan-kawan yang satu rombongan denganku berteriak girang.

"Sedikit lagi sampai puncak, ayok percepat langkah kita, kita harus sampai di puncak sebelum matahari terbit." kata salah seorang senior.

Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, semua bergegas tuk mendaki jalan yang sudah tidak beraturan itu. Jalan yang d penuhi dengan akar-akar pohon yang malang melintang. Terkadang harus melompati akar-akar itu, terkadang harus merunduk lewat di bawah akar-akar itu. Semua begitu semangat. Rombongan yang rata-rata teman-teman cowok itupun terus mempercepat langkahnya. Dan apa yang terjadi? Aku tertinggal jauh di belakang. Aku mencoba teriak memanggil, namun sepertinya sia-sia, mereka tak mendengar teriakanku. Karena sudah terlalu jauh. Punggung merekapun tak kelihatan. Suara langkah kaki mereka telah lenyap.

Tinggallah aku sendiri, melangkah dengan sisa-sisa tenagaku. Aku terus melangkah sendirian menapaki jalan di depanku tanpa alat penerang sedikitpun. Namun mataku masih bisa melihat jalan yang ada di depanku dalam keremangan malam itu. Bayangan ketakutan mulai menghampiriku. Bukan hantu yang aku takutkan, tapi bagaimana kalau aku ketemu harimau? Bagaimana kalau aku dicabik-cabik harimau? Team SAR pasti tak kan menemukanku. Ya Allah, lindungilah hambaMu yang lemah ini.

Tak henti-hentinya aku berdoa memohon keselamatan, hingga akhirnya nafasku seolah berhenti saat kudengar suara langkah kaki jauh dari belakangku. Langkah itu begitu cepat makin lama makin jelas. Namun tidak terdengar suara obrolan. Hatiku semakin was-was, jantungku berdetak makin cepat. Dalam kepasrahan kutetap mencoba dan berusaha tuk mempercepat langkahku. Dan tiba-tiba.

"Mbak, sendirian aja?" Lega hatiku mendengar suara itu.

"Iya." jawabku singkat. "Yang lain dah di depan dan sebagian masih di belakang." Kataku melanjutkan. Mereka ternyata 4 orang pendaki dari Bogor, cowok semua.

"Kami jalan dulu ya Mbak" Kata salah seorang dari mereka.

"Iya, silahkan" kataku sedikit berat. Akupun sedikit minggir tuk memberi jalan pada mereka. Satu persatu mereka mulai meninggalkanku dan dengan cepat melompati tanjakan yang ada di depannya. Tanjakan itu emang cukup tinggi sebatas dadaku. Dalam keadaan normal tentu saja aku bisa melompatinya, namun saat itu tenagaku benar-benar habis.

Baru saja aku ingin teriak minta tolong, salah satu dari pendaki itu membalikkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya. Segera kuraih tangannya, dan dengan cepat dia menarikku.

"Makasih, Mas" kataku singkat. Dia pun tersenyum.

"Sama-sama Mbak, maaf kami jalan dulu, mau lihat sunrise." Katanya sambil berlalu meninggalkanku sendirian lagi. Tapi kali ini aku sudah sedikit lega, ketakutanku agak hilang, walau dikit-dikit masih dag dig dug kalau-kalau ketemu harimau, macan atau singa. hiiii... apa jadinya.

Langit tampaknya sudah makin terang walau masih dibalut keremangan malam. Samar terdengar suara ramai temen-temen yang bersorak kegirangan karena telah sampai di puncak. Hatiku makin tenang, suara-suara itu makin jelas terdengar. Kupercepat langkah kakiku. Akhirnya, sampai juga. Aku menginjakkan kaki di puncak gunung Slamet. Kulihat ke sekeliling, ternyata hampir tidak ada pepohonan. Teman-teman terlihat memainkan kameranya tuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi itu.

Akupun turut menikmati keindahan pagi itu. Salah satu senior berteriak. "Hey lihat, itu puncak gunung Sindoro Sumbing. Sudah pernah kesana belum?" Tanyanya kepadaku.

"Belum. Dan gak akan pernah ke sana" Kataku menahan jengkel.

"Lho kenapa...?" Tanyanya heran.

"Naik gunung apaan, aku tadi kok ditinggal sendirian? Kalau aku ketemu macan gimana?" Kataku dengan sedikit mendelik. Eh dia malah ketawa.

"Hahaha... kamu kan galak abis. Macannya pasti takutlah ama kamu. Buktinya gak ada macan yang nemuin kamu kan?" Katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Sementara aku masih cemberut menahan rasa jengkelku. Saat itulah rombongan berikutnya mulai bermunculan meramaikan suasana pagi itu. Aku mulai menaiki bebatuan yang gersang tanpa tumbuhan.

"Non berhenti, jangan tinggi-tinggi, ntar kamu diterbangin angin." Kata salah seorang alumni yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dia pun menyusulku dan duduk di sebelahku. Rambutnya yang panjang berantakan dimainkan angin yang bertiup cukup kencang.

"Kang, sini rambutnya tak rapiin" Kataku sambil melangkah dan duduk di belakangnya.

Kedua tanganku mulai membagi rambutnya menjadi dua bagian, lalu kuikat dengan menggunakan syal hijau miliknya. Teman-teman yang melihat spontan tertawa melihat pria gondrong dipita dua. Langsung saja salah satu dari mereka mengabadikan moment itu dengan kameranya.

Waktunya kembali ke basecamp di post satu. Semua beranjak meninggalkan puncak gunung Slamet. Semua bahagia, semua bernyanyi penuh ceria. Sementara aku menikmati suasana hatiku sendiri. Kini giliranku meninggalkan teman-temanku. Dengan cepat aku melangkah turun. Aku berlari di antara jalan setapak, dan aku duduk meluncur di atas rumput yang tumbuh menurun. Dua orang senior tersengal-sengal mengejarku, menyuruhku berhenti dan memperlambat langkahku. Namun aku tidak peduli aku terus meluncur layaknya anak kecil yang sedang bermain di playground.

Setelah semua sampai di basecamp kedua senior itu pun menghampiriku "Wuaduh non, kamu tuh, mentang-mentang kecil main pelorotan mulu. Kalau kamu jatuh ke jurang gimana?" Tanyanya padaku.

Dengan santai kujawab "Buktinya gak jatuh kan? suruh siapa semalam ninggalin aku sendirian?" Akhirnya semua ketawa.

"Ooo.... ngambek neh ceritanya, makanya main pelorotan?" Sambil gemes mengobrak-abrik rambutku.

*** Memory pendakian-I ke gunung Slamet ^_^
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 24 April 2011

Jeritan Histeris Tengah Malam


Mini bus yang membawaku dan rombongan teman-teman akhirnya sampai juga pada tempat tujuan, yaitu Pantai Ayah. Teman-teman segera berhamburan keluar dari mini bus yang kami tumpangi dari depan sekolahku tadi. Setelah itu kami pun segera mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya kami mendirikan tenda di dekat selokan kecil berukuran lebar sekitar 50 cm.. Namun selokan ini mengalirkan air yang cukup jernih yang bisa digunakan untuk mencuci atau untuk dimasak sebagai air minum.

Hari ini adalah untuk pertama kalinya aku ikut camping di pantai. Teman-teman nampak sibuk mendirikan tenda. Camping kali ini adalah camping gabungan bersama SMA-SMA se-kabupaten Banyumas. Tujuan camping kali ini tidak hanya sekedar untuk refreshing, tapi karena kami semua ingin mencoba mendaki tebing karang yang konon kabarnya ada di sekitar bukit dekat pantai tempat kami mendirikan tenda.

Aku sibuk membongkar cariel yang berisi berbagai bekal dan peralatan. Setelah semua tenda selesai didirikan, satu persatu teman-teman mulai berhamburan ke arah pantai. Hingga akhirnya tinggallah aku sendiri. Duh... nasib... lagi-lagi aku harus sendirian menjaga sekian banyak tenda.

Setelah hari mulai gelap semua kembali ke camp. Ada yang basah kuyup dan kotor penuh pasir. Ada juga yang membawa ikan dari nelayan setempat. Ikan-ikan itu pun diserahkan padaku setelah dibersihkan sebelumnya. Akhirnya ikan-ikan itu pun aku masak dengan wajan kecilku yang kubawa dari rumah.

"Waduh Non, sempet-sempetnya bawa wajan. Gak rugi deh camping ngajak kamu." Kata salah seorang seniorku.

"Ya iyalah..." kataku singkat sambil menyiapkan segala sesuatunya.

"Apa ini... !" Teriak salah seorang kawan dari dalam tenda yang tepat di belakangku. Aku segera menoleh dan menyorotkan lampu senter ke arah yang dimaksud. Ternyata susu bendera kalengan yang tumpah di atas terpal.

"Waduh siapa sih yang naruh susu di sini, sayang banget neh, gimana neh...?" katanya sambil memandang ke arahku. Tanpa pikir panjang aku segera memindahkan tumpahan susu bendera itu ke wajan yang berisi ikan laut. Kawanku hanya bisa melongo melihat ulahku. Sementara aku hanya nyengir sambil mengisyaratkan padanya untuk diam. Dia pun hanya mengangguk sambil bergidik jijik.

Gak berapa lama kemudian ikan yang kumasak pun matang dengan wangi yang menggoda. Segera aku bagikan kepada teman-teman yang dari tadi sudah menunggu menu makan malam. Dengan cepat mereka menyantap.

"Wah... uenak banget, kok kamu pinter masaknya? bumbunya apa neh?" Tanya salah seorang seniorku.

"Masa enak sih? habiskan dulu, nanti tak kasih tau deh resepnya" Kataku dengan senyum pasti. Dengan cepat hidangan ikan laut pun habis disantap teman-teman.

"Masih ada lagi gak ikannya? aku belum kebagian neh?" Kata salah seorang kawan yang baru datang menikmati indahnya suasana malam di pantai.

"Udah habis. Suruh siapa gak balik-balik, gak tau orang pada kerepotan di sini." Kataku dengan santainya.

"Non, apa resepnya neh?" tanya salah seorang dari mereka.

"Biasa aja kok. Cuma ada tambahan dikit, itu tuh tumpahan susu bendera di terpal itu." Kataku sambil menahan tawa.

"Iya bener tuh, susu bendera yang tumpah tadi dia ciduk pake sendok lalu dimasukkan ke dalam wajan yang buat masak ikan." kata kawanku yang pertama kali menjerit tadi. Akhirnya semua ketawa, lalu kata mereka.

"Gak apa-apa, vitamin." ^_^

Setelah semua selesai akhirnya aku dan teman-temanku segera membersihkan peralatan masak dan peralatan makan tadi. Malam terus beranjak mengukir gelap di antara deburan ombak di pantai. Malam ini memang tidak ada acara khusus. Malam ini semua diminta untuk istirahat penuh karena besok pagi kami akan diajak untuk mendaki tebing karang yang dimaksud. Ada yang menikmati malam itu dengan jalan-jalan di pantai bersama kekasih hatinya, ada yang hanya duduk-duduk di kursi bambu yang telah tersedia di bawah pohon waru. Ada juga yang hanya duduk di dalam tenda sambil bermain kartu poker.

Sementara aku hanya duduk-duduk di pinggir selokan bersama seniorku, mbak Pipit yang sedang asyik ngobrol dengan seorang kawannya dari Cilacap. Mereka asyik diskusi masalah seputar pengalaman camping bersama teman-teman. Sesekali aku tersenyum sebagai respon aku ikut mendengarkan obrolan mereka. Sementara itu aku asyik memainkan lilin-lilin kecil yang menjadi penerang kami saat itu. Kedua kakiku kumasukkan ke dalam selokan yang mengalirkan air jernih itu. Aku asyik menikmati aliran airnya yang bening. Sambil sesekali mendekatkan lilin ke dalam selokan, mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari.

Malam kian larut, entah kenapa kurasakan kejenuhan yang tidak seperti biasanya. Tiba-tiba aku ingin menjerit. Akupun menyampaikan maksudku pada mbak Pipit.

"Mbak, aku ingin menjerit sepuas-puasnya."

Dengan santai dan terus menatapku dia pun berkata, "Ya sudah menjeritlah." Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun segera menjerit.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaa........" Sebuah jeritan panjangku yang membuat kaget seketika.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa......" Jeritan panjang susulan dilanjut dengan jerit tangisku.

Seketika itu juga, semua penghuni tenda berhamburan keluar mencari datangnya suara. Semua mendekat ke arahku, dan bertanya kepada mbak Pipit yang tenang-tenang saja duduk di sebelahku. Mbak Pipit pun menjawab kebingungan teman-teman,

"Tidak ada apa-apa, dia cuma pengen njerit aja." Akhirnya semua mengerti dan kembali ke tenda masing-masing.

Sementara itu aku puas-puasin menangis, hingga hatiku tenang kembali. Setelah itu aku segera membasuh wajahku yang berlumuran air mata dengan kesejukan air selokan di malam itu. Lega rasanya dan lapar ^_^

Tenagaku habis buat menjerit dan nangis histeris, hingga membuat perutku terasa lapar. Akhirnya aku pun hanya makan indomie goreng yang kuremas lalu kucampur bumbunya dan makan begitu saja. Maklum, malas masak. ^_^

Malam kian larut dan dingin, kami pun kembali ke tenda untuk istirahat barang sejenak. Temannya mbak Pipit pun segera pulang ke rumahnya yang kabarnya tak jauh dari pantai Ayah ini. ternyata teman-teman di dalam tenda posisi tidurnya seperti udang diaduk dalam penggorengan, amburadul. Tidak ada posisi yang benar. Mau tidak mau harus nyelip di pinggiran.

Keesokan paginya setelah semua membersihkan diri, kami segera berjalan meninggalkan camp dan menuju tebing karang yang dimaksud. Pak Lippo selaku pelatih olah raga alam bebas ini tiba-tiba telah merangkul pundakku dan bertanya menyelidik.

"Kamu kenapa? kok njerit histeris gitu? Apa ada masalah?" Tanyanya serius. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum, dan meyakinkan bahwa tidak ada masalah apapun.

Lalu beliau menepuk-nepuk pundakku, dan katanya, "Ya sudah kalau gak ada masalah, berarti siap dunk latihan hari ini?" Tanyanya sambil tersenyum.

"Siap dunk...pak..." jawabku pasti.

Setelah itu Pak Lippo asyik ngobrol dengan rekannya yang juga ahli di bidang Rock Climbing. Dan kami pun mulai meniti jalan di perbukitan yang menuju ke arah tebing karang. Nampaknya lokasi yang di maksud cukup jauh juga, kami harus melewati perbukitan yang sedikit terjal dan berliku. Beruntung ada kawan yang membawa radio kecil. Sebuah lagu gubahan pun melantun di antara tawa dan canda teman-teman.

Akhirnya kami semua sampai di lokasi tebing karang. Para senior yang bertugas segera menyiapkan segala peralatan. Mulai dari tali karmentel, karabinner, discender, tali prusik, dan webbing. Dua pemanjat nampak membuat tali simpul di puncak tebing karang. Sementara aku dan beberapa teman memasang webbing di badan masing-masing. Untuk permulaan, seorang anak muda yang pernah ikut kejuaraan nasional menunjukkan kebolehannya dalam tehnik memanjat tebing. Kami memperhatikan dengan seksama. Kemudian satu persatu pun mulai mencoba memanjat tebing karang itu.

Tak terasa waktu cepat berlalu, saatnya untuk kembali ke camp di pinggir pantai. Semua tampak happy dan bernyanyi riang menyusuri jalan di perbukitan yang akhirnya mengantar kami ke perkemahan.

*** Memory Di Pantai Ayah bersama para pecinta alam se kab-BMS*** ^_^

Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Kamis, 21 April 2011

Bukan Tipe Pencemburu


Senyum manis di wajahnya senantiasa mengembang, mewarnai hari-harinya yang seakan tiada pernah dilanda duka. Tawanya senantiasa renyah membahana, menggambarkan betapa free hatinya seolah tanpa beban derita. Begitupun saat dia harus berpisah denganmu sebagai keputusan yang matang yang menjadikannya semakin tegar dalam mengarungi liku hidup yang tiada terduga kapan aral melintang menghadang mulusnya jalan.

Ketegarannya menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya, adalah bukti betapa mapan pola pikirnya. Tiada keluh kesah yang dia tampakkan di muka umum. Seberat apapun beban hidupnya, dia tetap berdiri dengan gagah, memikul segala beban yang ada tanpa mengeluh sedikitpun. Lihatlah pancaran wajahnya yang selalu tulus menimbang rasa. Seperti saat dia melepaskanmu dan membiarkanmu memilih bidadari lain yang kau anggap lebih pantas untuk kau cintai.

Baginya cinta tak harus memiliki, cinta tak harus mencemburui. Cinta adalah keikhlasan, keikhlasan menerima segala yang ada, tanpa harus merasa cemburu dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Sama seperti saat perhatianmu beralih pada yang lain. Hanya senyum yang tersungging di bibirnya seraya berucap lirih "Semoga kalian berjodoh dan hidup dalam lindungan kasih Illahi Robbi..."

Lalu dia pun melangkah tenang, tanpa pernah merasa bersalah telah meninggalkanmu. Karena di matanya kau memang tidak pernah tulus mencintainya, tidak pernah tulus menyayanginya. Terbukti dengan segala apa yang di lihatnya ketika segala kasih dan perhatianmu justru tertuju kepada yang lain. Bukan rasa cemburu yang dia tunjukkan ketika ia tahu kau bermesraan dengan yang lain. Tapi rasa syukur kepada Dzat Yang Maha Kasih, yang telah membukakan kedua mata batinnya akan siapa sebenarnya dirimu, siapa sebenarnya sosok yang pernah di kasihinya.

Dia bukan tipe pencemburu. Bukan berarti cintanya kepadamu di masa lalu palsu. Tapi kedewasaan dalam dirinya yang membuatnya lebih bijak dalam menghadapi setiap liku sebuah rasa dalam mengarungi samudera cinta yang penuh dengan gelombang badai asmara. Dia bukan anak kecil yang mudah menangis ketika di cubit. Dia bukan anak kecil yang mudah merengek ketika apa yang dia harapkan jadi miliknya ternyata tak jua ia dapatkan bahkan menjadi milik orang lain.

Dia gadis dewasa yang pandai mensyukuri nikmat. Dia gadis yang tegar, dia gadis yang kuat, dia gadis yang mampu bertahan di tengah kecaman dahsyatnya badai kehidupan. Tiada pernah ku dengar dia mengeluh, walau derita kerap hadir menyapa ketenangan jiwanya. Percuma saja kau bersusah payah membuatnya cemburu, karena di hatinya dia justru mendo'akanmu agar kau dapat menjalin hubungan dengannya.

Mungkin benar adanya, bahwa kau tiada pernah mencintainya. Atau kesombongan dalam dirimu yang membuatmu bertahan untuk tidak mengungkapkan perasaan hatimu yang sesungguhnya. Well... itu adalah urusanmu dengannya. Ada tidaknya rasa itu hanya kau yang tahu. Satu yang pasti dia bukan tipe pencemburu. Terbukti saat dia melihatmu bermesraan dengan yang lain, dia justru mendo'akanmu. So tak perlu kau bersusah payah memperlihatkan kemesraanmu dengan gadis lain di depan matanya. Karena dia bukan tipe pencemburu.

Dia gadis yang cantik, pintar, cerdas, lincah, sholehah, energic, atraktif... waow... seabreg kelebihan di sandangnya... ckckckck... Rasanya rugi kalau di lepaskan begitu saja, sementara kau tahu bahwa kau pernah ada dalam hatinya. Namun aku tidak bisa menjamin bahwa di hatinya masih ada namamu, karena kulihat dia begitu supel dalam bergaul. Dengan mudah dia kan dapatkan pengganti dirimu yang mungkin lebih perfect and lebih sempurna di matanya.

Kurasa penjelasanku tadi sudah jelas. Dia bukan tipe pencemburu. OK...?! Kalau kurang jelas, silahkan baca ulang dari awal.

Selamat membaca kawan. (((^_^)))
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Jumat, 15 April 2011

Kuingin Obati Laramu


Terengah desah nafasmu
Terseok langkah kakimu
Apakah gerangan yang terjadi
Duhai kekasih hati...

Bulir-bulir lembut mulai jatuh
Berderai di antara tetesan peluh
Terbata kau coba ucapkan kata
Seraya menahan perihnya lara...

Kasih... mampukah diri ini...
Sedikit mengobati
Lara yang kini menyiksa
Lara yang membuatmu merana...

Kala tatap matamu kian sayu
Getar rapat bibirmu isyaratkan pilu
Lukiskan perihnya lara
Yang hadir menampar jiwa...

Kini... lunglai tubuhmu kian layu
Terhempas di padang perdu
Gaungmu kembali sepi
Lenyap di telan sunyi...

Kasih... tak kuasa kumenahan duka
Tak kuasa melihatmu terluka
Ijinkan aku berlari memeluk nadi
Membawamu ke negeri tersembunyi...

Kan kuracik ramuan asa
Dengan percikan rahasia cinta
Kan kutaburi benih-benih rindu
Dengan kelembutan kasih nan biru...

Kan kuhapus segala duka
Kan kutepis perihnya lara
Dengan segumpal kasih dalam jiwaku
Kuingin obati laramu...

HK, 10 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Selasa, 12 April 2011

Legenda Bunga Bangsa di Negeri Sufi


Selaksa makna yang melegenda
Menjadi acuan para sufi muda
Mencermati gelombang kisah nyata
Di antara jerit tangis yang kian membahana...

Jiwa-jiwa ksatria kian berlomba
Di antara ribuan domba-domba
Telusuri padang rumput di hutan rimba
Berharap mendapatkan mutiara yang lama di damba...

Kabut makin tebal samarkan pandangan
Jerit tangis sehening pegunungan
Tak gentar semangat terus berkobaran
Saat keadilan menjadi santapan kemurkaan...

Binar indah mata kian terpancar
Saat bibir berucap "Allahu Akbar..."
Tumbanglah sudah gedung pencakar
Bunga di taman pun kembali mekar...

Gemuruh di belahan bumi barat telah mereda
Bunga "putri malu" kembali tersenyum manja
Burung camarpun kembali ke suraunya
Tuk menimba ilmu agama...

Langit di negeri para sufi terlihat lebih cerah
Pertanda dunia di sekitarnya penuh berkah
Kemurkaan nampaknya telah punah
Tawa bunga bangsa kembali merekah...

Di sini... di negeri bambu ini
Untaian doa akan selalu mengiringi
Tuk bunga bangsa di negeri sufi
Selalu dalam lindungan Illahi
Robbi...

(Terinspirasi evakuasi Masisir Februari 2011)
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......

Minggu, 10 April 2011

Kelembutan Kasih Biru


Duhai kekasihku...
Selembut mungkin kan kubelai jiwamu
Kan kubawa kau tuk arungi samudera biru
Memindai syahdunya buaian rindu

Bersamamu kukan melaju
Telusuri lembah terjal berbatu
Tiada lagi gundah mendera batinku
Saat jiwamu dan jiwaku khusyuk menyatu

Kelembutan kasih biru
Kan ku hadirkan selalu
Berbahagialah duhai sayangku
Percayalah akan segala niatan suciku

Kan kuhadirkan kembali syahdu cintaku
Kan kuayunkan kembali merdunya asmara qolbu
Kan kuhapus segala keresahan di jiwamu
Hingga musnahlah gumpalan pilu

Sayang...
Seluas hamparan langit yang membentang
Salam santunku padamu kan tertuang
Terciptalah kesejukan baluti jiwa nan gersang

Kelembutan kasih biru
Selembut kasih seorang ibu
Hanya untukmu duhai kekasih hatiku
Percayalah, akan kelembutan kasih biru...

HK, 6 April 2011
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)

Silahkan Baca Selengkapnya......
Photobucket
 

Karya Tulis

Refleksi 02 Mei 2011

Ini hanya bagiku, entah bagi yang lainnya. Setiap hari orang-orang science mempelajari banyak simbol, dari alfabet hingga numerik atau beragam bentuk yang memang sengaja diciptakan sedemikian rupa. Aku tahu simbol-simbol tersebut sengaja diciptakan untuk

Kisah Kehidupan

Demi Sebuah Amanah

Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua.

Sastra

Cinta Dalam Hati ( CIDAHA )

Kala cinta datang menggoda Memanggil dan mengetuk pintu hati Lalu singgah ke rumah jiwa Tanpa kata permisi Hhm... Terdengar begitu syahdu menyentuh kalbu Namun, jika ini benar cinta Jangan biarkan cintaku padaMu hilang di hati Perkenankanlah tuk selalu mencintaiMu

© 3 Columns Newspaper Copyright by Website Nathiq | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks